
Kupang – Universitas Sugeng Hartono (USH) yang berlokasi di Solo Baru, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, memperkenalkan diri kepada masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) sebagai kampus internasional dengan biaya pendidikan terjangkau.
Kunjungan USH ke NTT tersebut merupakan bagian dari upaya memperluas akses pendidikan berkualitas bagi generasi muda di luar Pulau Jawa, khususnya dari wilayah Indonesia Timur. Selain bertemu dengan Pemerintah Provinsi NTT, Universitas Sugeng Hartono juga memperkenalkan program pendidikannya kepada sejumlah sekolah menengah di Kota Kupang, di antaranya SMA Giovanni Kupang.
Rektor Universitas Sugeng Hartono, Assoc. Prof. Jacob F. N Dethan, S.T., M.Eng, SC., Ph.D, mengatakan, USH merupakan satu-satunya kampus internasional di Jawa Tengah yang menerapkan pembelajaran penuh berbahasa Inggris serta mewajibkan bahasa Mandarin selama tiga tahun di seluruh program studi.
Mahasiswa yang diterima di USH akan difasilitasi buku pembelajaran standar internasional dan diwajibkan tinggal di asrama kampus sebagai bagian dari sistem pendidikan terpadu.
“Kami ingin lulusan kami memiliki kompetensi di atas rata-rata. Dengan penguasaan bahasa internasional dan pengalaman kerja, daya saing mereka akan jauh lebih tinggi,” ujar Jacob saat memperkenalkan USH kepada Pemerintah Provinsi NTT, Jumat (30/1/2026).
Selain pembelajaran bahasa, USH juga mewajibkan mahasiswa mengikuti program magang kerja selama satu tahun. Skema ini dirancang agar mahasiswa tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga siap memasuki dunia kerja setelah lulus. “Kami ingin saat mahasiswa lulus, mereka sudah tahu cara bekerja dan tidak perlu diajari lagi dari nol,” katanya.
USH memiliki dua fakultas dengan tujuh program studi yang menyesuaikan kebutuhan zaman, seperti bisnis digital, teknologi pangan, hukum, ilmu kesehatan, dan bahasa. Seluruh perkuliahan diselenggarakan dalam bahasa Inggris.
Dalam rangka internasionalisasi, USH juga menawarkan program double degree melalui skema 2+2 Dual Bachelor’s Degree Program, dan 3+2 Fast Track Bachelor’s Master’s Program bekerja sama dengan perguruan tinggi di Taiwan. Melalui program ini, mahasiswa berkesempatan memperoleh dua gelar akademik dalam waktu lebih singkat dengan berbagai fasilitas pendukung.
Dari sisi pembiayaan, USH menetapkan biaya kuliah sebesar Rp6,9 juta per semester dan menyediakan skema beasiswa mulai dari 25 persen hingga 100 persen penuh sampai lulus, berdasarkan hasil Tes Potensi Akademik (TPA). “Beasiswa 100 persen diberikan bagi calon mahasiswa dengan nilai TPA di atas 90. Ini seleksi ketat karena kami ingin menjaga kualitas akademik,” tegasnya.
Jacob mengungkapkan, USH saat ini telah memiliki mahasiswa asal NTT dari sejumlah daerah seperti Kupang, Flores, dan Sumba, meski jumlahnya masih terbatas. Karena itu, pihaknya berharap pemerintah daerah dapat membantu memperluas sosialisasi ke sekolah-sekolah di NTT. “Kampus kami baru berusia empat tahun. Programnya bagus, tapi kalau belum dikenal tentu sayang. Kami berharap bisa dibantu untuk diperkenalkan secara lebih luas,” ujarnya.
Pemprov NTT Sambut Positif USH
Sementara itu, Staf Ahli Gubernur NTT Bidang Kesejahteraan Rakyat, Drs. Ady Endezon Mandala, M.Si, menyambut positif tawaran kerja sama dari Universitas Sugeng Hartono. Menurutnya, kehadiran kampus internasional dengan biaya terjangkau merupakan peluang strategis untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia NTT.
“Pemerintah Provinsi NTT melihat ini sebagai tawaran yang sangat mulia. Universitas ini bertaraf internasional, tetapi akses finansialnya lokal dan sangat realistis bagi masyarakat,” kata Mandala.
Ia menilai skema beasiswa yang ditawarkan, serta biaya pendidikan dan asrama yang relatif murah, menjadi keunggulan utama USH. Biaya asrama sekitar Rp5 juta per tahun dinilai jauh lebih terjangkau dibandingkan biaya kos di kota-kota besar di Jawa.
Pemprov NTT, lanjut Mandala, akan memfasilitasi sosialisasi USH ke SMA dan SMK di bawah kewenangan pemerintah provinsi agar informasi tersebut dapat menjangkau calon mahasiswa secara merata di kabupaten dan kota.
“Kami juga membuka peluang kerja sama jangka panjang, terutama pada bidang teknologi pangan, bisnis internasional, dan pengembangan ekonomi daerah. Anak-anak NTT yang kuliah di sini nantinya bisa menjadi aset penting dalam pembangunan daerah,” ujarnya.
Lulus Siap Kerja, Bukan Sarjana Menganggur
Wakil Rektor Universitas Sugeng Hartono, Dr. Anthon Stevanus Tondo, SE, MBA, menegaskan bahwa filosofi utama pendidikan di USH adalah memastikan lulusan tidak berhenti pada ijazah, tetapi benar-benar siap memasuki dunia kerja.
Menurutnya, keunggulan utama USH terletak pada sistem pembelajaran full English dan Mandarin yang diterapkan pada seluruh program studi tanpa pembedaan kelas reguler maupun internasional.
“Banyak orang bertanya, kenapa harus bahasa Inggris dan Mandarin. Mimpi anak Indonesia adalah bekerja di perusahaan multinasional. Kalau 12 tahun belajar bahasa Inggris dari SD sampai SMA lalu berhenti saat kuliah, itu tidak masuk logika. Bahasa adalah keterampilan, harus dipakai setiap hari,” ujarnya.
Ia menjelaskan, USH membangun ekosistem yang memaksa mahasiswa berkomunikasi aktif dalam bahasa Inggris dan Mandarin, sehingga kemampuan berbahasa tidak hanya teoritis, tetapi praktis dan fungsional.
Keunggulan kedua, lanjut Anthon, adalah konsep shorter but richer study period, yakni masa studi yang lebih singkat namun sarat pengalaman kerja. Mahasiswa USH menempuh pendidikan selama 10 semester dalam sistem tiga semester per tahun, sehingga dapat lulus dalam waktu sekitar 3 tahun 4 bulan, termasuk 1 tahun magang kerja wajib.
“Mahasiswa kami lulus sudah mengantongi pengalaman kerja satu tahun. Ini berbeda dengan kampus lain yang lulus cepat tapi tidak punya pengalaman. Kami gabungkan lulus cepat dan siap kerja,” tegasnya.
Konsekuensi dari sistem tersebut adalah masa libur yang lebih pendek. Namun, menurut Anthon, hal itu justru menguntungkan mahasiswa karena waktu digunakan untuk membangun kompetensi.
USH juga menerapkan sistem asrama internasional berbasis pembentukan karakter. Seluruh mahasiswa, termasuk mahasiswa asing, tinggal di asrama dengan pengawasan ketat, pemisahan asrama putra-putri, CCTV, tes narkoba, serta program pembinaan karakter. “Pendidikan berkualitas tidak hanya terjadi di dalam kelas, tapi juga di luar kelas. Asrama menjadi bagian dari pendidikan karakter,” katanya.
Dari sisi biaya, Anthon menegaskan USH merupakan kampus internasional paling terjangkau di Indonesia. Berbeda dengan kampus lain yang hanya membuka kelas internasional berbiaya mahal, seluruh mahasiswa USH mendapatkan pembelajaran internasional dengan biaya lokal.
“Biaya kuliah kami Rp6,9 juta per semester. Dengan beasiswa 75 persen, total biaya sampai lulus hanya sekitar Rp22 juta. Kalau dibagi per bulan, sekitar Rp550 ribu. Ini kelas internasional, tapi harganya lokal,” jelasnya.
Selain itu, biaya hidup di Solo dinilai sangat ramah bagi mahasiswa. Biaya kos berkisar Rp500 ribu per bulan dan kebutuhan makan masih terjangkau, sehingga tidak memberatkan orang tua. USH juga tidak sekadar menawarkan beasiswa, melainkan solusi pendidikan yang benar-benar menjawab kebutuhan pasar kerja.
“Tujuan kami bukan hanya membuat anak bisa kuliah, tapi memastikan lulusan kami tidak menganggur. Idealisme kami adalah mencetak sarjana yang terserap industri, bukan sekadar lulusan,” tegasnya.
Ia menambahkan, pengalaman pribadinya mengelola kampus internasional di Jakarta menunjukkan bahwa lulusan dengan pembelajaran penuh bahasa Inggris lebih mudah diserap industri dan memperoleh beasiswa ke luar negeri. Konsep tersebut kini dihadirkan USH dengan biaya jauh lebih terjangkau. “Kami satu-satunya dan yang pertama di Indonesia dengan konsep kualitas internasional, harga lokal, dan paket lengkap. Ini solusi nyata, bukan sekadar seremonial,” ujarnya.
Menurut Anthon USH menghadirkan kualitas internasional dengan harga lokal. “Ini bukan sekadar kampus yang bagi-bagi beasiswa. Ini solusi agar anak-anak kita kuliah berkualitas dan tidak berakhir sebagai sarjana menganggur,” ujarnya. (*/gma)
Sumber : Lintasntt
